Ketua KPU Tulungagung Mustofa. (foto:  Joko Pramono/Jatim Times)
Ketua KPU Tulungagung Mustofa. (foto: Joko Pramono/Jatim Times)

Matal, penderita gangguan jiwa yang melakukan pembunuhan terhadap pasangan suami istri (pasutri), ternyata masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) pemilu 17 april. Namun lantaran dianggap mengalami gangguan gila berat, nama Matal dicoret dari DPT.

"Matal itu kan terdaftar dalam DPT. Kemudian ternyata mengalami gangguan kejiwaan seperti itu,  maka kita coret," ujar Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tulungagung Mustofa (Senin, 8/4/19/).

Pencoretan Matal dalam DPT juga  dikuatkan dengan keterangan dokter bahwa yang bersangkutan memang mengalami gangguan gila berat.

Matal sendiri telah melakukan pembunuhan terhadap pasangan Barno (70) dan Sumini (70), Jumat 16 November 2018 lalu. Di tubuh Barno ditemukan 24 luka bacokan. Sedangkan Sumini mengalami 16 luka bacokan. Keduanya juga luka parah pada bagian leher hingga hampir putus. 

Setelah ditangkap pada hari yang sama, Matal bisa berkomunikasi layaknya orang normal. Matal juga mengakui telah melakukan aksi keji itu.

Di sisi lain, KPU Tulungagung tetap memasukkan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Pasalnya, ODGJ yang dimaksud bukanlah orang gila yang berkeliaran di jalanan, bahkan sambil telanjang. ODGJ yang boleh mencoblos ialah yang mengalami gangguan jiwa seperti depresi, frustrasi maupun stres.

"Tetapi bila secara adminitrasi kenegaraan masih diakui, terdaftar sebagai penduduk, mempunyai KTP. Itu yang kami akomodasi sebagai pemilih," kata Mustofa.

Namun bila suatu saat penderita gangguan jiwa mengalami peningkatan gangguan jiwa hingga dikatakan gila, maka akan dicoret dari DPT. 

Dari data yang dikeluarkan oleh KPU Tulungagung pada akhir tahun lalu, jumlah penderita gangguan jiwa yang masuk DPTB di Tulungagung mencapai ratusan. Setidaknya ada sekitar 204 penderita gangguan jiwa yang menjadi pemilih dalam Pemilu 2019 dari total tunagrahita sebanyak 1.684.