Petunjuk arah menuju Gunung Semeru yang berada di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Petunjuk arah menuju Gunung Semeru yang berada di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Beberapa tahun terakhir, pelaksanaan upacara bendera di puncak gunung seolah menjadi tren tersendiri. Tahun ini, Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melakukan pembatasan kuota bagi pendaki. Hanya 600 orang yang telah mendaftar yang diperbolehkan naik untuk melakukan upacara di tiga titik Gunung Semeru. 
 

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar TNBTS Sarif Hidayat mengungkapkan, pembatasan tersebut dilakukan untuk mengurangi kepadatan pendakian. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelumnya, antusias pendaki sangat besar. 

"Pernah terdata ada 3.050 pendaki yang naik pada 2013 lalu. Masifnya jumlah pendaki ini dikhawatirkan berpengaruh negatif pada ekosistem gunung," ujarnya. 
 

Untuk pendakian mulai 14-17 Agustus, pihak TNBTS memberi kuota maksimal 600 orang per hari. "Pendakian dengan kuota 600 per hari sudah full booking. Jadi jika belum mendaftar sebelumnya, tidak diberikan izin naik," terangnya. 
 

Selain itu, pendaki juga dilarang menggelar upacara di Puncak Mahameru karena alasan keselamatan. Pasalnya, sejak 2012 lalu Gunung Semeru dinyatakan dalam status Waspada atau Level 2. "Seperti halnya pendakian, yang kami rekomendasikan hanya sampe Kali Mati. Maka upacara 17 Agustus juga hanya diadakan di Ranu Pane, Ranu Kumbolo dan Kali Mati," sebutnya.
 

"Kami juga menugaskan juga personel PAM 17 Agustus di sepanjang jalur pendakian. Terdiri dari personel TNBTS, komunitas setempat seperti saver, gimbal alas dan masyarakat. Khusus untuk upacara, juga dibantu Mapala ITN Malang," urainya. Total, ada sekitar 50 personel yang diterjunkan untuk upacara dan pengawasan.