Pembangunan sumur wakaf sebagai solusi jangka panjang kekeringan masyarakat (blog.act.id)
Pembangunan sumur wakaf sebagai solusi jangka panjang kekeringan masyarakat (blog.act.id)

Musim kemarau dimungkinkan terus mencengkeramkan kuku-kuku kekeringannya semakin luas. Seperti yang terjadi di wilayah langganan kekeringan di Kabupaten Malang di tahun 2019 ini.

Kemarau tak bisa lagi dibendung oleh Pemerintah Kabupaten (pemkab) Malang. Langkah penanganan telah dilakuakan agar tidak meluas ke wilayah lainnya. Tapi, sayangnya setelah mampu menahan kekeringan di bulan lalu hanya di empat desa yang ada di tiga kecamatan, kini, m kekeringan telah meluas dan telah melanda 19 desa di 9 kecamatan.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Bambang Istiawan yang menyampaikan, kekeringan di wilayahnya sampai bulan ini meluas di berbagai desa.

"Benar kekeringan terus meluas sampai saat ini. Dari data kami sudah ada 19 desa di 9 kecamatan yang dilanda kekeringan," ucap Bambang, Minggu (01/09/2019).

Mantan Kasatpol PP Kabupaten Malang ini melanjutkan,  luasan dampak kemarau tahun 2019 ini memperlihatkan adanya peningkatan. Dimana, di tahun 2018 lalu, wilayah yang terdampak hanya di 7 kecamatan dengan 9 desa. Sekarang meningkat cukup tajam, yaitu hampir 50 persen dari tahun 2018 lalu.

Dimana, menurut Bambang, kekeringan terparah di tahun 2019 ini terjadi di Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, Pagak dan Sumberpucung. Wilayah-wilayah yang setiap tahunnya didera kekeringan terbilang parah.

Pola penanganan kekeringan yang membuat warga kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, masih sama dengan tahun lalunya. Yakni dengan droping air bersih ke wilayah-wilayah yang meminta bantuan. Seperti yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Malang serta OPD terkait lainnya.

Hal ini tentunya juga membuat, persoalan kekeringan di wilayah merah kekeringan akan terus terjadi setiap musim kemarau. Satu sisi, Pemkab Malang pun terlihat cukup kesulitan untuk membuat dan merealisasikan program untuk mengatasi kekeringan di wilayahnya. 

Misalnya dengan membuat sumur di berbagai wilayah yang menjadi langganan kekeringan.
Kondisi inilah yang membuat berbagai kalangan dari organisasi nirlaba kembali turun tangan dengan persoalan tahunan yang terlihat tak ada penyelesaiannya itu. Salah satunya adalah dari organisasi nirlaba Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang meluncurkan program sumur wakaf.

Melalui program sumur wakaf yang telah berjalan bertahun lalu, organisasi nirlaba ini melakukan berbagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat atas air bersih di berbagai wilayah Indonesia. Dimana melalui organisasinya mereka bergerak untuk mendorong masyarakat untuk mewakafkan sebagian hartanya untuk pembuatan sumur di wilayah-wilayah kekeringan.

Diki Taufik Sidik, Branch Manager ACT Malang menyampaikan, melalui program sumur wakaf, persoalan kekeringan secara jangka panjang bisa diatasi. "Kita petakan wilayah kekeringan itu, lantas kita cari titik sumber air yang ada di sana. Serta kita bangun sumur yang nantinya bisa menjadi sumber air warga di saat musim kemarau datang," ujarnya.

Pembangunan sumur itu sendiri anggarannya berasal dari donasi siapapun yang tergerak untuk bersama membangun infrastruktur air yang dibutuhkan masyarakat di wilayah kekeringan.

"Setelah donasi terkumpul dan kita telah lakukan pemetaan dan lokasi sumber air, baru kita bangun sumur," lanjut Diki yang mengatakan juga untuk Kabupaten Malang yang sudah divisitasi adalah Desa Bantur, Kecamatan Bantur. 

"Tim ACT bahkan telah membuat portofolio dan estimasi biaya yang dibutuhkan," imbuhnya.
Dilansir dari www.globalwakaf com, program sumur wakaf sepanjang tahun 2016 telah berhasil merambah 14 propinsi di Indonesia. Dengan sumur yang dibangun di 29 kota atau kabupaten, dan tersebar di 55 kecamatan.

Minat masyarakat untuk program sumur wakaf pun terbilang bagus. Bukan hanya donatur Indonesia saja, tapi juga mendapat respon positif dari Negeri Sakura, Jepang. Dimana, sebuah komunitas  muslimah di Jepang, menyalurkan wakaf tunainya untuk membangun sumur di Tanah Air.

“Minat masyarakat untuk berwakaf sumur cukup bagus. Kita berharap ini bagian dari keberhasilan kami mengedukasi publik tentang wakaf, khususnya wakaf sumur,” ujar Sukorini, Senior Manajer Community Development (Comdev-ACT), seperti dilansir di www.globalwakaf.com.

Ditarik ke zaman hidup nabi Muhammad SAW, wakaf sumur sebenarnya juga telah dipraktikkan. Dimana dalam sebuah kisah disampaikan, kota suci Madinah mengalami kekeringan parah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang penduduk, sumur raumah namanya. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih tersebut.

Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” ucap nabi dalam hadist riwayat Muslim.

Tanpa berfikir panjang, Sahabat Utsman bin Affan segera menjalankan perintah wakaf. Lambat laun sumur raudah ini menjelma menjadi pertanian kurma, dan kini hasil dari kebun kurma tersebut digunakan untuk menghidupi mauquf'alaih di sekitar Madinah.

Dengan peristiwa panjang dan solusi nyata itulah, persoalan kekeringan di Kabupaten Malang, tentunya tidak perlu menjadi langganan tahunan. Serta persoalan anggaran yang kerap menjadi persoalan dalam memprogram kegiatan pengentasan kekeringan di Pemkab Malang juga sebenarnya bisa dicari solusi lainnya. Seperti yang telah ditunjukkan oleh berbagai organisasi nirlaba, seperti ACT.

Diki juga menerangkan, selain pembuatan sumur wakaf, pihaknya juga tetap mempergunakan pola secara insidental. Yakni dengan mendistribusikan air bersih ke berbagai wilayah kekeringan.
"Distribusi air bersih tetap dilakukan, seperti di Kabupaten Malang. Kita droping air bersih sebanyak lima mobil tangki  dengan kapasitas 5 ribu liter per mobil," pungkasnya.