Ketua IDI Tulungagung, Abu Mardah tunjukan APD darurat dari jas hujan (Joko Pramono for Jatim Times)
Ketua IDI Tulungagung, Abu Mardah tunjukan APD darurat dari jas hujan (Joko Pramono for Jatim Times)

Stok alat perlindungan diri (APD) bagi tenaga medis di RSUD dr. Iskak kian menipis. 

Dari perhitungan yang dilakukan oleh internal RSUD dr. Iskak, APD yang ada diperkirakan hanya cukup untuk 10-15 hari ke depan, tergantung jumlah pasien covid-19 yang ditangani.

"Dalam kondisi ini, banyak sekali keterbatasan yang dialami rumah sakit, termasuk RSUD dr Iskak terkait ketersediaan APD. Bahkan, stok yang kami miliki terbilang menipis, hanya bertahan 10 hari," jelas Humas RSUD dr. Iskak, Muhammad Rifa’I, Rabu (25/3/20).

Padahal jumlah pasien suspect covid-19 yang ditangani kian hari kian bertambah. 

Jika tidak menggunakan APD, keselamatan petugas medis yang menangani pasien suspect covid-19 jelas terancam.

APD yang diperlukan seperti masker, baju pelindung atau hazmat, kacamata pelindung, sepatu, kaos tangan dan alat pelindung lainya.

Kebutuhan PAD di RSUD dr. Iskak cukup tinggi, lantaran RSUD dr. ISkak merupakan satu rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani Covid-19.

Bahkan, jika dihitung, penanganan satu pasien dengan status pasien suspect Covid-19 yang di rawat di ruang isolasi, pihaknya membutuhkan kurang lebih 12 APD untuk dua sift.

"Satu sift-nya ada enam. Dan APD itu hanya sekali pakai. Jika sudah keluar dari ruang isolasi, dan tidak kontak lagi dengan pasien, maka APD itu harus dibuang," tuturnya.

Untuk memenuhi kebutuhan APD , pihaknya sudah mencari dengan membeli dari sejumlah penyedia APD (pabrik) atau lainnya.

Namun, jika hingga lima hari kedepan tidak kunjung mendapatkan, karena stok di penyedia atau pabrikan kosong, maka pihaknya memperhitungkan untuk membuat APD alternatif, seperti masker kain.

"Ya itu opsi akhir ya. Tapi selama ini, kami masih mendapat bantuan dari sejumlah lembaga, termasuk pemerintah provinsi, kementerian kesehatan, lembaga masyarakat, bahkan selebgram. Namun jumlahnya, juga masih terbatas," tandasnya.

Senada, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Tulungagung, Abu Mardah.

Dia menjelaskan saat ini tim Satgas Tulungagung dan faskes pemerintah maupun swasta sudah berupaya mencari tambahan APD.

Keberadaan APD saat ini sulit didapat, jikapun ada maka harganya melambung tinggi. 

Itu karena, produksi APD dari pabrik terbatas, sedangkan permintaan APD tinggi dari seluruh faskes di Indonesia dalam menangani para pasien suspect maupun pasien positif covid-19.

"Sejumlah RS Swasta Tulungagung bahkan  sudah kosong.," jelasnya

Jika memang kondisi kosong, pihaknya punya alternatif terakhir dengan memodifikasi APD.

Tentunya, sesuai dengan standar APD pada umumnya. 

Misalnya, dengan jas hujan plastik yang dimodifikasi sebagai baju hazmat, kacamata pelindung yang terbuat dari mika dan lainnya.

"Modifikasi ini sudah dibentuk sesuai standar baju hazmat pada umumnya. Dan ini, pemakaiannya juga sekali pakai," jelasnya

Saat ini pihaknya tengah melakukan penggalangan donasi APD yang disebar di medsos maupun whatsapp. 

Penggalanagan dana selain dalam bentuk uang tunai juga dalam bentuk APD.

Seperti masker harganya tembus  Rp 150 ribu hingga 250 ribu perbox. Begitu juga baju Hazmat, juga mencapai Rp 160 ribu per suit.

"Sudah ada yang masuk. Seperti masker dan lainnya. Namun untuk pembagiannya, kami petakan dulu. Faskes mana yang membutuhkan. Dan nanti pembagiannya, akan dilakukan secara transparan. Di posting di medsos kita," jelasnya.

Penggalangan donasi APD tak hanya dilakukan di Tulungagung, namun juga di seluruh wilayah lantaran stok APD yang kosong. 

Padahal, APD sendiri sangat penting dan vital bagi tim medis yang menangani virus Covid-19.

Mengingat, virus Covid-19 bisa menularkan dengan cepat melalui droplet yang bisa masuk ke tubuh, melalui hidung, mulut atau bahkan mata.

"Ini untuk safety tim medis kita. Yang telah berjuang. Jangan sampai, mereka ikut tertular," tegasnya

Disinggung apakah langkah IDI Cabang Tulungagung ini bersinggungan dengan Satgas Covid-19 yang dibentuk Pemkab? 

Abu mengatakan tidak.  Sebab, beberapa anggota IDI ini juga tergabung dalam Satgas. 

Maka, sebelum di SK-kan penggalangan donasi ini, IDI klaim sudah berkomunikasi dengan Satgas.

“Kamipun siap menerjunkan relawan untuk membantu pemerintah dalam menangani pasien,” tandasnya.

 

<