Ilustrasi (femela).
Ilustrasi (femela).

Kisah cemburunya Aisyah RA kepada Rasulullah SAW selama ini banyak diceritakan. 

Dikatakan, ada lima hadits sekaligus yang menceritakan kecemburuan Aisyah kepada Rasulullah. 

Lantas apakah benar Aisyah memang istri Rasulullah yang paling pencemburu? 

Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal sebagai Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kesempatan menyampaikan, ada lima hadits yang meriwayatkan ketika Aisyah RA menunjukkan rasa cemburunya. 

Empat riwayat menjelaskan jika Aisyah mendapat teguran dari Rasulullah dan satu lagi tidak ditegur.

"Saya mau luruskan, karena banyak yang menyalahkan Aisyah dengan mengatakan 'Aisyah saja cemburu', itu adalah salah," katanya Istadz Basalamah.

Dalam riwayat pertama, dijelaskan jika Aisyah merasa cemburu kepada Khadijah. 

Dikisahkan, suatu hari Rasulullah tengah duduk berdua dengan Aisyah, kemudian datang perempuan yang lewat lalu mengucapkan salam. 

Saat itu Rasulullah kaget, karena suara perempuan itu mirip Khadijah.

Saat dilihat ternyata mereka adalah adik dari Khadijah bersama sahabat dekat Khadijah yang sering mengunjungi Rasulullah di Makkah. 

Lalu nabi berkata "Ya Aisyah, buatkan lah makanan, hidangkan sesuatu untuk dimakan,". 

Lalu Aisyah sampaikan kepada istri Rasulullah yang lain dan datanglah mereka beramai-ramai menyiapkan makanan, namun saat itu mereka tidak mengetahui siapa tamu Rasulullah tersebut.

Kemudian saat dua perempuan itu kembali, Aisyah duduk kembali dengan Rasulullah dan bertanya tentang siapa sebenarnya dua perempuan yang begitu dihormati Rasulullah tersebut. 

Rasulullah pun menjawab, "Satu adiknya Khadijah dan satu sahabat dekatnya Khadijah,".

Rasul menyampaikan itu lalu Aisyah menjawab "Ya Rasulullah, Anda masih mengingat wanita Quraish yang sudah keriput semua mukanya dan sudah masuk ke dalam kuburan. Dan Anda sudah digantikan dengan wanita quraish yang lebih baik (maksudnya adalah Aisyah),".

Lalu Rasulullah menjawab, "Demi Allah tidak ada yang menggantikan Khadijah ya Aisyah. Dialah yang telah beriman kepada saya di saat orang-orang belum ada yang beriman. Dialah yang membantu saya dengan hartanya dikala dakwah ini butuh perjuangan. Dialah yang Allah karuniakan anak darinya yang saya tidak diberikan dari istri yang lainnya,".

Maka Aisyah pun merasa sangat bersalah, karena itu merupakan sebuah kebenaran. 

Kemudian Aisyah meminta maaf. 

"Sejarah tentang Aisyah cemburu itu tidak bisa dijadikan hukum, tapi penentuan dari Rasulullah itu yang dilaksanakan. Artinya cemburu itu tidak boleh," terang Ustadz Basalamah.

Pada riwayat ke dua, dikisahkan jika cemburunya Aisyah adalah dengan Shafiyah. 

Keduanya, Aisyah dan Shafiyah memang dikenal sebagai istri Rasulullah yang cantik. 

Biasanya Rasulullah datang ke rumah Shafiyah lalu ke rumah Aisyah.

Hingga suatu hari Aisyah berkata "Ya Rasulullah Anda masih mendatangi rumah anak Yahudi yang kerdil itu," kemudian Rasulullah berkata "Wahai Aisyah kau telah mengucapkan kalimat dengan menyebut kata kerdil. Kau telah mengucapkan kalimat yang jika ditaruh dilautan rusak itu lautan,". 

Lalu Aisyah meminta maaf.

"Aisyah di sini menjadi penyebab hukum kita paham, jadi bukan melihat historinya, tapi penyebab teguran Rasulullah," tambah Ustadz Basalamah.

Teguran ke tiga adalah di malam Nisfu Sya'ban. 

Di malam ke 15 saat itu Rasulullah tertidur dan itu kebetulan saat itu memang malamnya Aisyah.

Lalu Aisyah kaget karena Rasulullah tidak disampingnya saat malam hari.

Aisyah bergegas memakai baju kemudian datangi semua istri Rasulullah dan ternyata semua nggak ada. 

Maka Aisyah buru-buru ke Masjid dan Rasulullah masih salat. 

Rasulullah mengetahui keberadaan Aisyah saat salam terakhir dengan nafas yang terengah-engah.

Kemudian Rasulullah berkata, "Wahai Aisyah, kamu cemburu lagi. Ini malam Nisfu Sya'ban. Malamnya salat malam". 

Aisyah merasa bersalah dan minta maaf.

Riwayat ke empat mengisahkan cemburunya Aisyah dengan Mariyah istri Rasulullah dari Mesir. 

Rasulullah tahu jika istrinya Mariyah tersebut sangat suka madu. 

Sehingga setiap kali Rasulullah datang, akan selalu dihidangkan madu.

Rasulullah selalu konsumsi madu dan tradisi beliau selalu menggunakan siwak sebelum masuk ke rumah dan agar wangi saat ngobrol dengan istrinya. 

Aisyah tahu jika di rumah Mariyah nabi selalu diberikan madu. 

Lalu Aisyah datang ke rumah istri nabi di sebelah rumahnya yaitu Habasyah yang umurnya sepadan dengan Aisyah.

Lalu Aisyah mengatakan, "Hai Habasyah jika Rasulullah datang padamu, bilang mulutnya bau,". 

Lalu Habasyah bertanya kenapa dan Aisyah menjawab, " Ya Habasyah karena beliau dari rumah Mariyah yang punya madu dan kita tidak punya madu yang bisa dihidangkan," kata Aisyah.

Keinginan Aisyah saat itu adalah agar Rasulullah tidak makan madu lagi di rumah Maryam. 

Hal itu lalu disetujui Habasyah dan akhirnya Aisyah pulang ke rumah. 

Kemudian ketika Rasulullah mendatangi Aisyah, Aisyah pun mengatakan jika mulut Rasulullah bau.

Rasulullah saat itu merasa ada yang tak beres. 

Kemudian mendatangi Habasyah dan mendapati hal yang sama dari Habasyah.

Kemudian Rasulullah memilih melakukan perjalanan ke pinggir Madinah dan duduk merenung.

Lalu seorang sahabat satang dan bertanya.

Rasulullah menjawab "Hari ini aku haramkan meminum madu,". 

Lalu Jibril membawa ayat tentang keputusan Rasulullah yang mengharamkan sesuatu hanya untuk mendapat ridha istrinya.

"Mendengar ayat itu turun, Aisyah dan Habasyah pun meminta maaf. Nggak berani lagi," terang Ustadz Basalamah.

Terakhir Riwayat ke lima menyampaikan cemburunya Aisyah pada Ummu Salamah istri nabi paling tua umurnya. 

Ummu Salamah dikenal sebagai istri yang sangat bijaksana dan sangat dewasa.

Suatu hari, Ummu Salamah pernah memberi hadiah senampan kurma ke rumah Aisyah. 

Niatnya adalah untuk dimakan berdua dengan Rasulullah. 

Waktu tiba yang bawa pembantu Ummu Salamah, Aisyah cemburu dan menepis kurma yang dibawa tersebut serta mmebuat kurma berjatuhan dan berantakan.

Lalu Nabi berkata "Pungutlah kurma-kurma ini, ibumu sedang cemburu". 

Lalu Aisyah merasa malu dan ikut memungut kurma yang berjatuhan tersebut dan akhirnya dimakan bersama Rasulullah.

"Yang jadi hukum adalah penentuan hukum. Jadi nggak ada cemburu," pungkasnya.