Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Dalam sebuah kisah disebutkan, ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang berperang hanya berbekal pisau dapur dan penutup panci.

Penutup panci itu kemudian digunakan sebagai topi perang. 

Lalu pisau dapur digunakan untuk menggantikan pedang yang memang sama sekali tak ia miliki.

Sahabat itu bernama Rubai bin Amir, salah seorang sahabat yang dikenal sangat pemberani dan tegas.

Ketika dipanggil Umar bin Khattab untuk berperang, Rubai langsung datang dengan membawa bekal seadanya, yaitu pisau dapur, tutup panci, dan tombak yang ia pinjam dari temannya.

Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal sebagai Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kesempatan menyampaikan, suatu ketika umat muslimin akan berperang dengan Pasukan Persia.

Saat itu, umat muslimin memiliki kekuatan sebanyak 30 ribu pasukan dan menghadapi setidaknya 240 ribu pasukan Persia.

Meski jumlah pasukan Persia jauh lebih banyak, pasukan muslimin pada akhirnya tetap memilih untuk melangkah maju dan tak mundur.

Hal itu membuat musuh bertanya-tanya. 

Pasukan Persia yang saat itu dipimpin oleh Panglima Perang bernama Rustum pun meminta untuk dilakukan negoisasi.

Saat itu, salah satu tujuannya adalah mengetahui seberapa besar kekuatan umat muslim.

Pasukan muslim yang pertama datang untuk melakukan negoisasi dengan Rustum saat itu adalah Rubai.

Sebelum Rubai datang, seluruh isi istana dihias semewah mungkin menggunakan emas-emasan. 

Rustum berkeinginan menggoda para utusan dengan harta bergelimang yang dimiliki Persia.

Saat Rubai tiba untuk bernegosiasi, Rustum pun memerintahkan pasukannya agar Rubai tak diizinkan masuk kecuali Rubai memberi penghormatan pada Rustum.

Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Rubai. 

Saat itu juga, Rubai melihat ada permadani dan atasnya emas. 

Emas disingkirkan olehnya, dan permadani diambil lalu dibelah dua dianggap sebagai harta rampasan.

Lalu Rubai berkata, "Ini pembukaan harta rampasan kami kalau kau tak buka pintu gerbang".

Rubai yang diceritakan memiliki ciri fisik kecil dan pendek itu pun tetap maju menghadapi pasukan Persia yang bertubuh tinggi kekar.

Mendengar perkataan Rubai, lalu Rustum memerintahkan agar gerbang dibuka sedikit saja supaya Rubai masuk dengan gesture tunduk.

Maka Rubai melihat itu dan membalikkan pantat dan masuk dari balik bagian belakang tubuhnya.

Sehingga ia tak menunduk, melainkan berjalan mundur dengan memasukkan pantatnya ke gerbang terlebih dulu.

Rubai pun memasuki istana Rustum dengan keledai tuanya dan melintasi karpet mewah. 

Pisau dapur di tangan kanannya pun ia gunakan untuk merusak bantal yang menghiasi isi istana.

Kemudian tombak yang ada di tangan kirinya menusuk setiap permadani yang ia lewati bersama keledai miliknya. 

Sementara kepalanya masih menggunakan penutup panci sebagai topi perang.

Dalam pertemuan itu, Rustum meminta bantuan dari para penerjemah. 

Lalu Rustum bertanya apa kemauan dari Rubai. 

Saat itu, Rustum juga menawarkan harta kepada Rubai hingga jabatan.

Kemudian Rubai menjawab, "Kami datang dari sana tidak butuh dengan harta yang kau pamerkan ini. Kami datang mengeluarkan seluruh hamba termasuk kamu dan kami untuk merubah menyembah mahluk menjadi menyembah yang menciptakan mahluk. Kalau kau patuh, maka kami akan tinggalkan kau dengan semua ini,".

Saat itu, Rubai menegaskan agar Persia tak menyembah rajanya sebagai Tuhan. 

Karena saat itu, Persia memang tengah menyembah rajanya layaknya Tuhan.

Saat itu, Rustum memberi jawaban untuk meminta waktu. 

Rubai pun mempertegas dengan menanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan. 

Kemudian Rustum mengatakan jika mereka membutuhkan waktu beberapa bulan untuk berdiskusi.

Permintaan itu ditolak Rubai, dan ia langsung menegaskan jika waktu yang diberikan untuk berfikir hanya tiga hari.

Sikap Rubai membuat Rustum kaget dan dia bertanya lagi kepada Rubai tentang siapa dia sebenarnya. 

"Apakah kau pemimpin umat muslimin?" kata Rustum.

Rubai menjawab jika ia bukan pemimpin pasukan muslimin yang akan menghadapi 240 ribu pasukan yang disiapkan Persia, melainkan dia merupakan pasukan paling belakang.

Lantas Rustum bertanya kenapa Rubai berani mengambil keputusan seperti itu. 

Kemudian dijawab Rubai, "Karena agama kami mengajarkan dari pemimpin muslim hingga masyarakat biasa adalah keputusannya sama. Muslim semua begitu, kami satu jasad".

Pasca melakukan negoisasi, Rubai diizinkan pulang okeh Rustum.

Saat itu juga, Rustum membuat surat kepada rajanya dan menceritakan watak dari Rubai dan pertemuannya dengan Rubai. 

Lantas Raja Persia tetap menghendaki untuk dilakukan peperangan.

Dari kisah itu, Ustadz Basalamah menyebut jika pelajaran utama yang diambil dari Rubai adalah sikap tegas dan pemberaninya. 

Karena umat muslim yang telah mengenal Tuhannya dipastikan akan meninggalkan semua keindahan dunia.