Perugas saat memeriksa kamar mandi yang digunakan jentik nyamuk untuk berkembang biak. (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Perugas saat memeriksa kamar mandi yang digunakan jentik nyamuk untuk berkembang biak. (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Puluhan warga Dusun/Desa Pinggirsari, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, mengalami gejala chikungunya.

Mereka sudah mengalami gejala ini sudah sejak Sabtu, (9/5/20) lalu. Bahkan beberapa warga menglami gejala kelumpuhan.

Nia (30) yang tinggal di RT 1 RW 2 salah satunya. Wanita ini mengaku sakit pada persendiannya sehingga tidak bisa beraktivitas, seperti orang lumpuh.

"Saya malah seperti lumpuh. Rasanya persendian sangat sakit. Bahkan sakitnya sampai ke pinggang," ungkap Nia, Kamis (14/5/2020).

Sebelum mengeluhkan sakit pada persendiannya, Nia mengalami demam. Setelah demamnya mereda, timbul bintik-bintik merah pada kulit disertai nyeri pada persendian.

Nia tak sendiri. Di rumahnya ada 6 orang yang sakit sepertinya. Mereka adalah suami Nia, anaknya, dua mertuanya, dan salah satu saudara suaminya.

Hal serupa juga dialami  Chudori (60), tetangga Nia. Tangan Chudori bergetar saat direntangkan ke depan meski dirinya menahan agar tidak bergetar.

Begiu juga saat jongkok, dia harus berusaha keras agar bisa kembali berdiri. Kondisi ini dialami Chudori sejak Sabtu (9/5/2020) kemarin.

"Sabtu kemarin sangat parah. Kalau sudah jongkok, sudah tidak bisa berdiri," ujar Chudori.

Selain Chudori, penyakit ini juga menyerang kedua cucunya, Sofia Nurjanah (7) dan Hamid (5). Chudori tinggal di RT 4 RW 3 desa yang sama dengan Nia.

Chudori menceritakan, awalnya dirinya mandi seperti biasa. Namun selepas mandi, tubuhnya menggigil kedinginan.

Setelah itu, seluruh persendiriannya terasa sangat sakit. Tangannya juga bengkak dan sulit digerakkan hingga dirinya sulit bergerak seperti lumpuh.

"Saya kasih obat Oskadon SP sama Bodrex. Sekarang sudah mulai bisa digerakkan," ucap Chudori.

Sementara itu, petugas kesehatan yang memeriksa ke rumah-rumah warga menemukan jentik-jentik nyamuk yang berkembang biak di kamar mandi.

Berkembangnya jentik ini lantaran diduga warga terlalu fokus pada covid-19 sehingga abai pada kebersihan lingkungan. Akibatnya, populasi nyamuk vector chikunguya seperti Aedes Aegypti  dan Aedes Albopictus mengalami peningkatan.

"Selama masa pandemi covid-19 ini, rupanya masyarakat sangat memperhatikan kebersihan individu, tapi lupa menjaga kebersihan lingkungan," ucap Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Tulungagung Didik Eka, Kamis (14/5/2020).

Nyamuk ini biasanya berkembang biak di air menggenang di luar rumah. Lantaran musim hujan telah lewat dan air yang menggenang sudah tak ada, nyamuk-nyamuk ini berkembang biak di dalam rumah, khususnya di bak kamar mandi.

"Permasalahannya kebersihan bak mandi kurang diperhatikan. Terutama jarang dikuras sehingga nyamuk bisa bertelur sampai jadi nyamuk dewasa," sambung Didik.

Jentik banyak ditemukan terutama di bak kamar mandi yang pencahayaan sinar mataharinya kurang sehingga kotor dan ditumbuhi lumut.

Data sementara yang masuk, ada 31 warga yang terserang chikungunya. "Karena itu, kami melakukan sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kemudian akan kami lanjutkan dengan fogging," ujar Didik.

Fogging atau pengasapan akan dilakukan Jumat (15/5/2020) dengan tujuan mematikan nyamuk dewasa.

Petugas kesehatan juga membagikan larvasida untuk membasmi jentik nyamuk. Dengan memberlakukan PSN dan pengasapan, diharapkan bisa memutus mata rantai penularan chikungunya.