Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Dalam catatan sejarah Islam disebut, pasukan Saad bin Waqash yang dipimpin Nadhlah pernah bertemu dengan seorang murid Nabi Isa AS. Pertemuan itu terjadi disebuah dataran di lereng gunung saat Nadhlah beserta pasukan selesai menaklukkan Kota Hulwan.

Dalam pertemuan itu, Nadhlah dan 300 pasukannya pun mendapatkan pesan tentang tanda-tanda hari kiamat.

Baca Juga : Salat Idul Adha dan Penyembelihan Kurban Bisa Dilakukan di Kota Batu, Asalkan Ini

Dikisahkan, pada masa khalifah Umar, wilayah Qadasiyah termasuk Kota besar di Persia (Iran dan Irak sekarang) ditaklukkan dan Saad bin Waqash menjadi pemimpinnya.

Umar memerintahkan Saad untuk mengirimkan sahabat Nadhlah untuk menaklukkan Hulwan yang termasuk wilayah Persia. Maka Nadhlah dengan pasukan kudanya mengepung beberapa saat dan wilayah itu menyatakan takluk dan mengikuti Madinah. Nadhlah kembali ke Qadisiyah dengan membawa harta rampasan atau ghanimah sangat banyak.

Saat hendak kembali, pasukan terlebih dahulu singgah di sebuah gunung karena saat itu menunjukkan waktu salat. Ketika itu, Nadhlah pun melantunkan adzan.

Ketika adzan dikumandangkan, terdengar di sela-sela jawaban suara lain dari atas gunung yang menimpali suara adzan Nadhlah. Pasukan dan Nadhlah pun mendengarnya dengan sangat jelas.

Ketika Nadhlah melantunkan kalimat 'Allahu Akbar' sebanyak dua kali, maka terdengar jawaban, “Engkau telah mengagungkan Dzat yang Maha Besar, wahai Nadhlah!”

Ketika Nadhlah melantunkan kalimat 'Asyhadu Alla Ilaaha Illallah' sebanyak dua kali, maka terdengar jawaban, “Itu adalah suara kalimat ikhlas, wahai Nadhlah.”

Lalu ketika Nadhlah melantunkan kalimat 'Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah' sebanyak dua kali, maka terdengar jawaban, “Wahai Nadhlah, dia (Nabi Muhammad SAW) adalah orang yang diberitahukan Nabi Isa kepada kami.”

Ketika Nadhlah melantunkan kalimat, 'Hayya 'alash sholaah' sebanyak dua kali, maka terdengar jawaban, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mengerjakan secara istiqomah.”

Ketika dilantunkan kalimat 'Hayya 'alal falah' sebanyak dua kali, maka terdengar jawaban, “Sangatlah beruntung orang yang memenuhi ajakan Nabi Muhammad SAW, itu adalah jaminan bagi umat Muhammad SAW.”

Ketika dilantunkan kalimat ,'Allahu Akbar Allahu Akbar, laa Ilaaha Illallah', maka terdengar jawaban “Kamu benar-benar ikhlas wahai Nadhlah, sungguh Allah akan mengharamkan jasadmu dari api neraka.”

Suara tersebut membuat Nadhlah dan pasukan sempat merasa takut. Nadhlah pun bertanya siapa suara yang menimpali suara adzan tersebut. Nadhlah pun meminta agar pemilik suara itu muncul di hadapan mereka.

Tiba-tiba saja muncul sosok pria tua berambut dan berjenggot putih. Dia mengenakan pakaian berbulu sederhana mengucapkan salam dan berkata, “Aku adalah Zarnab bin Bar'ala, murid dan orang yang sangat dipercaya Nabi Isa as. Aku ditempatkan di gunung ini dan didoakan Nabi Isa panjang umur hingga Nabi Isa turun lagi dari langit.”

Nadhlah dan pasukannya pun merasa terheran. Karena pria tua itu tak memiliki tanda-tanda penuaan sama sekali dengan fisik yang masih kuat.

Baca Juga : Gus Baha: Problem Kita Sekarang ini Biasa Didikte Orang Bodoh

Orang tua itupun kembali berkata, “Karena aku tak bisa bertemu langsung dengan Rasulullah SAW, begitu juga dengan Umar bin Khattab, maka sampaikan salamku kepadanya, dan sampaikanlah ucapanku ini kepadanya.”

Zardad berkata lagi, “Wahai Umar, bekerjalah yang keras. Karena sesungguhnya hari kiamat telah sangat dekat. Dan sampaikanlah kepada umat Muhammad SAW, jika nanti telah terjadi peristiwa-peristiwa di antara mereka, apa-apa yang akan aku sampaikan, hendaklah mereka lari, hendaklah mereka menghindari sejauh-jauhnya, jangan sampai mereka terjatuh dalam peristiwa itu.”

Peristiwa yang dimaksud adalah tanda-tanda datangnya kiamat. Tanda-tanda yang disampaikan itu adalah ketika laki-laki senang dengan laki-laki, dan wanita senang dengan wanita. Maksudnya adalah bersikap homoseksual ataupun lesbian seperti yang terjadi pada kaum Nabi Lud.

Kemudian jika orang-orang senang bernasab kepada orang yang bukan leluhurnya, nasabnya palsu. Lalu jika orang tua tidak menyayangi yang muda, dan orang-orang muda tidak mau menghormati yang tua.

Selanjutnya, jika orang-orang telah meninggalkan amar makruf nahi munkar. Tanda berikutnya adalah jika orang yang pandai seperti ulama mengajarkan ilmunya semata-mata untuk mencari kekayaan dunia. Lalu hujan turun di musim kemarau dan kemarau memanjang hingga musim hujan.

Tanda kiamat berikutnya adalah anak-anak bersikap menjengkelkan kepada orang tua, bersikap kurang ajar dan sedikit sekali orang-orang yang mempunyai budi pekerti baik. Lalu orang-orang lebih banyak membangun rumah dan senang mengumbar hawa nafsunya, bahkan menjual agama demi keuntungan duniawi semasa.

Lalu menganggap ringan masalah pembunuhan, dan menjual hukum demi kepentingan pribadi, senang memutus silaturahim, senang membangun menara, menghiasi mushaf (Al-Quran) dan memperindah masjid, suap dan riba dimana-mana, dan orang-orang senang dipuji, termasuk wanitanya dan mereka kaum wanita bepergian kemana-mana dengan berkendara sendiri.

Setelah menyampaikan tanda-tanda itu, Zarnab bin Bar'ala mengucap salam dan berlaku pergi menuju bangunan darimana ia datang. Dalam sekejap Zarnab sudah tak lagi terlihat.

Maka usai salat, Nadhlah memerintahkan pasukan segera kembali ke Qadasiyah dan menceritakan kisah tersebut

Saad bin Waqash sebagai pimpinannya. Saad tertarik dengan pesan Zarnab karena mirip dengan pesan yang disampaikan Rasulullah SAW tentang tanda-tanda kiamat.

Saad pun ingin mendengar cerita dan tanda-tanda itu langsung dari Zarnab. Maka Saad membawa empat ribu pasukannya menuju dataran di bawah pegunungan tersebut. Selama 40 hari mereka tinggal di sana dan mengerjakan salat berjamaah. Suara adzan pun dikeraskan. Namun tak ada jawaban seperti yang disampaikan kepada Nadhlah sebelumnya.