Screenshot video yang viral menunjukkan seorang laki-laki mencium jenazah PDP covid-19 di Kota Malang.
Screenshot video yang viral menunjukkan seorang laki-laki mencium jenazah PDP covid-19 di Kota Malang.

Jagat maya kembali digegerkan dengan video viral yang menunjukkan jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) covid-19 tengah diciumi oleh saudaranya. Jenazah berjenis kelamin laki-laki itu pun kemudian diminta oleh pihak keluarga dan ditolak untuk dilakukan pemakaman secara protokol kesehatan covid-19.

Dalam video berdurasi dua menit lebih itu, terlihat seorang pria menghampiri jenazah PDP yang tengah dibungkus dalam plastik dan kantong berwarna kuning. Pria tersebut secara paksa membuka kantong jenazah dan menolak penjelasan dari tim medis.

Baca Juga : Ramai Reaksi Video Dangdutan Bupati Sanusi, Teguran Keras Datang dari Satgas Covid-19

 

Dalam awal video, terlihat petugas medis dengan APD lengkap menjelaskan kepada pihak keluarga. Pria tersebut menyampaikan bahwa selama perawatan, pasien menunjukkan gejala klinis covid-19.

"Selama dirawat dokter penyakit dalam, muncul tanda screening covid pada Kamis. Dari foto paru-parunya," kata pria yang mengenakan baju APD (alat pelindung diri).

Belum selesai pria tersebut menjelaskan, seorang pria memakai baju berwarna putih menuju kantong jenazah yang juga dijaga petugas medis dengan APD lengkap. Dia seolah tak peduli dengan penjelasan tim medis.

"Ya Allah cacakku rek. Gowo moleh ae, nggak usah digowo nang Celaket. Aku sing nggowo moleh. Wis meneng, nggak usah (Ya Allah, kakak saya. Dibawa pulang saja. Tidak usah dibawa ke Celaket (RSAA Malang). Sudah diam. Tidak usah," katanya dengan nada tinggi sambil membuka plastik jenazah.

Sementara petugas tampak beberapa kali memperingatkan dan meminta agar pria tersebut tak membuka paksa kantong jenazah. Namun, pria tersebut malah juga mencium wajah jenazah pria yang terbungkus plastik tersebut.

Tak lama, seorang perempuan yang berteriak 'ayah' menangis dan menolak kantong jenazah dibuka. Kemudian perempuan tersebut pingsan. Pada akhirnya, jenazah dibawa tanpa protokol kesehatan.

Pria berbaju putih yang memaksa membuka kantong jenazah pada awalnya hendak memasukkan jenazah ke dalam kendaraan pribadi lantaran takut dibawa ke RSSA. Kemudian diminta untuk tetap membawa menggunakan ambulans. Petugas menggunakan APD lengkap tetap mendampingi jenazah dan rombongan.

Video viral tersebut ternyata terjadi di Kota Malang. Caamat Kedungkandang Donny Sandito menyampaikan bahwa kejadian dalam video yang viral tersebut adalah di RST Soepraoen Malang. Jenazah merupakan PDP dan warga Kelurahan Buring. Sementara orang-orang yang mengerubungi jenazah belum diketahui warga mana saja.

"Yang meninggal dunia warga Buring. Dia salah satu pendiri masjid," tambah Donny.

Baca Juga : Pecah Rekor Lagi, Kasus Baru Positif Covid-19 di Kota Malang Hari Ini Bertambah 64

 

Terpisah, Juru Bicara Gugus Satgas Covid-19 yang juga Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif menyampaikan bahwa kondisi yang terjadi dalam video viral itu sungguh disayangkan. Apalagi terlihat jika orang dalam video tersebut merupakan tokoh masyarakat.

Husnul menyebut kejadian itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk lebih masif dalam mengedukasi masyarakat. Terutama para tokoh masyarakat, untuk kemudian bisa disampaikan kepada masyarakat secara umum.

"Memang perlu edukasi lebih masif kepada masyarakat. Terutama kemarin dalam tanda kutip ada tokoh masyarakat," terang Husnul saat ditemui di Balai Kota Malang, Senin (10/8/2020).

Mengenai kejadian tersebut, dia mengatakan Kecamatan Kedungkandang telah memiliki Tim Satgas NU. Sehingga langsung dikoordinasikan dengan pihak puskesmas setempat untuk melakukan berbagai upaya pencegahan.

Husnul pun berharap, masyarakat lebih mematuhi protokol kesehatan meskipun jenazah yang meninggal dunia masih berstatus PDP. Sebab, sebelum hasil swab keluar, maka akan sulit diketahui dengan pasti. Sehingga memang pemakaman pasien yang memiliki gejala klinis covid-19 harus tetap dengan protokol kesehatan yang ada. "Untuk kasus itu sudah dilakukan beberapa langkah oleh wilayah puskesmas," pungkas Husnul.