Perak yang Dipamerkan Museum Sonobudoyo.
Perak yang Dipamerkan Museum Sonobudoyo.

Yogyakarta terkenal dengan kerajinan peraknya. Berbagai perhiasan, perabot, hingga dekorasi dan aksesori berbahan perak pun kerap menjadi pilihan buah tangan saat berkunjung ke kota budaya ini.

Jika sedang berkesempatan datang ke Yogyakarta, wisatawan bisa langsung melihat hasil-hasil kerajinan perak nan cantik dari masa lalu di Museum Sonobudoyo. Sepanjang Agustus 2020 ini, di museum tersebut berlangsung pameran edukatif berjudul RAJATA yang juga menampilkan karya-karya perajin perak zaman kuno. 

Baca Juga : Gairahkan Perekomian Rakyat, Pemuda dan Warga Desa Doho Buka Wisata Pemancingan

Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Museum Nasional Sonobudyo selalu menghadirkan berbagai pameran kebudayaan yang mendidik bagi masyarakat. Setelah sempat ditutup beberapa waktu akibat pandemi Covid-19, sejak 4 Agustus lalu, Sonobudoyo kembali menghadirkan pameran temporer bertajuk RAJATA.

Sesuai tema yang diusung, pameran temporer ini menceritakan perjalanan perak sejak berabad-abad silam. Kepala Museum Sonobudoyo Setyawan Sahli mengungkapkan, dalam perjalanan sejarahnya, cerita perak tak lepas dari sejarah Kunnstambachtsschool. 

“Melalui pameran ini, Sonobudoyo berharap industri perak terus lestari di Yogyakarta dan Kotagede khususnya”, terang Setyawan.

Dari pantauan YogyakartaTIMES, koleksi pameran ini merupakan karya seluruh siswa Kunstambachtsschool atau Sekolah Seni Kerajinan di tahun 1940-an. 

Salah satu karya yang dipamerkan adalah piring zodiak dan merupakan karya terbaik siswa Kunstambachtsschool saat itu. “Di dalam piring ini ada 12 simbol rasi bintang atau zodiak,” jelas petugas menerangkan kekhasan piring zodiak.

Disebabkan masih dalam keadaan pandemi, pameran yang diselenggarakan hingga 24 Agustus ini kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Namun demikian, menurut petugas jaga, walaupun tidak ramai, setiap hari selalu ada pengunjung yang datang. 

“Ada, tapi tidak seperti tahun lalu,” jawab petugas saat ditanya tentang jumlah kunjungan.

Baca Juga : Emil Tinjau Wisata di Kota Batu, Apresiasi Ada Tim Satgas dan Protokol Kesehatan Berlapis

Walaupun tidak begitu populer, pameran bertema perak ini sangat mendidik dan dapat dijadikan sebagai sarana pengenalan warisan budaya pada generasi muda. Hal ini sebagaimana diungkapkan Rusdi, salah satu pengunjung yang datang bersama anaknya. 

“Generasi muda harus mengerti, seperti anak saya ini selalu saya ajak berkunjung ke pameran yang bersifat mendidik,” terang Rusdi.

Perlu untuk diketahui, dalam sejarah masa lalu, kerajinan perak dahulu hanya produk terbatas bagi kalangan keraton. Masyarakat Belanda yang tinggal di negara koloni memberikan andil yang cukup besar dalam mengubah wajah industri perak Kotagede. 

Akhirnya kerajinan perak di Kotagede mengalami masa keemasannya pada tahun 1930-an. Pameran perak ini merupakan bagian dari sejarah keberadaan Kunstambachtsschool yang hanya berjalan satu angkatan saja di Kotagede. Karena setelah sekolah dibuka, terjadi perang dunia kedua, sehingga tidak berlanjut.