Agus saat merakit vas bunga dari bahan cocofiber. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Agus saat merakit vas bunga dari bahan cocofiber. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Siapa yang menyangka limbah dari sabut kelapa bisa dimanfaatkan untuk menjadi barang bernilai ekonomi. Melalui tanan dingin Agus Winarno, ternyata limbah sabut kelapa bisa ia sulap jadi media tanam untuk tanaman hias.

 

Baca Juga : Prospek dan Efek Pandemi Terhadap Bisnis Kopi Khas Mojokerto, Ini Kata Pelaku UMKM

 

Di kediamannya di Dusun Kedungbentul, Desa Kedungturi, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, pria 51 tahun itu terlihat sibuk dengan tumpukan limbah sabut kelapa.

Sisa dari buah kelapa berupa sabut dan batok diolah Agus melalui mesin yang ia rakit sendiri. Sabut kelapa dipisah melalui olahan mesin sehingga menjadi bagian kecil serabut menyerupai rambut. Hasil olahan tersebut menjadi cocofiber.

Sedangkan, batok kelapa ia giling dengan mesin khusus hingga menjadi butiran menyerupai pasir. Nah, yang ini disebut cocopeat. Cocofiber dan cocopeat hasil olahan Agus inilah yang bisa digunakan menjadi media tanam pengganti tanah.

"Cocopeat dan cocofiber ini untuk media tanam pengganti tanah. Biasanya digunakan untuk bonsai maupun tanaman hias di media pot," ujarnya saat ditemui wartawan di kediamannya, Minggu (5/10).

 

Dijelaskan Agus, cocofiber ini biasanya ia rakit terlebih dahulu menjadi vas bunga. Sabut kelapa yang sudah ia olah menyerupai rambut, ia rakit dengan cetakan rangka kawat besi. Rangka dari kawat itu untuk membentuk cocofiber dari sabut kelapa menjadi sebuah vas.

 

"Vas dari cocofiber biasanya untuk media tanam bunga anggrek. Vas ini vas bunga yang biasanya digantung di halaman rumah," kata Agus.

 

Sedangkan untuk cocopeat, kata Agus, biasa digunakan sebagai pengganti tanah. Cocopeat sebagai media tanam untuk tanaman hias di pot. Media tanam cocopeat cukup ditaruh atau diisi di pot, lalu diberi tanaman hias.

 

Baca Juga : OJK Malang Janji Koordinasi dengan Pemda Malang untuk Pulihkan Ekonomi

 

Cocopeat ini banyak diburu pecinta tanaman hias belakangan ini. "Tidak harus disiram setiap hari. Bahkan saya juga menguji tanaman milik saya. Selama satu minggu tidak disiram pun ternyata masih basah di bawahnya. Tanaman bisa hidup dengan media cocopeat," terangnya.

 

Agus mengaku baru 8 bulan belakangan ini mengolah sabut kelapa menjadi media tanam cocopeat dan cocofiber. Awalnya ia melihat banyaknya limbah kelapa yang ada di sekitar rumahnya. Lantas, ia mencoba mengolahnya hingga menemukan ide untuk dimanfaatkan menjadi media tanam tanaman hias.

 

Kini, pria yang sehari-hari jadi juru parkir itu, bisa mendulang keuntungan hingga jutaan rupiah dari cocopeat dan cocofiber tersebut. Untuk cocorfiber yang telah jadi vas, ia jual seharga Rp 12 ribu. Sedangkan kalau cocopeat ia jual dalam kemasan plastik 2 kilogram dengan berat isi 4 ons seharga Rp 4 ribu.

 

Ia juga melayani permintaan cocofiber dalam kemasan dalam kemasan plastik 2 kilogram, dengan berat isi 1 ons seharga Rp 5 ribu. "Untuk pot saja sebulan bisa dapat untuk Rp 4 juta. Kalau seluruhnya, dari cocopeat dan cocofiber bisa untuk sebulan hingga Rp 7-8 juta," pungkasnya.(*)