(Foto: YouTube JatimTIMES NEtwork)
(Foto: YouTube JatimTIMES NEtwork)

Kisah mengharukan dari Ngedum Ojir JatimTIMES Network kali ini datang dari seorang remaja yang menderita difabel. Ia adalah Siti Komariah warga Dusun Gunung Tumpuk, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.  

 

Meski memiliki keterbatasan, ia tetap berjuang untuk tetap bisa bersekolah. Siti berhasil ditemukan oleh Direktur JatimTIMES Network Lazuardi Firdaus di depan rumahnya saat hendak jalan-jalan dan ditemani sang ibu. Saat ditanya, Siti mengaku sudah menderita difabel sejak ia lahir.  

Baca Juga : Mantan Anggota ISIS di Kabupaten Malang Didatangi Ketua BNPT Boy Rafli Amar

 

Meski kondisinya seperti itu, Siti tetap ingin mendapatkan pendidikan yang baik. Ia pun kini duduk di kelas satu sekolah dasar saat usianya menginjak 15 tahun.  

Dengan bahagia, Siti mengaku jika saat ini ia sudah bisa membaca. Dari Siti tentunya ada pelajaran yang bisa kita petik. Lantaran dengan segala keterbatasannya, Siti masih tetap ingin menuntut ilmu.  

"Mau sampai SMP," ujar Siti saat ditanya Firdaus ingin melanjutkan sampai ke jenjang apa.  Ibunda Siti, Sumarmi mengatakan, jika Siti merupakan anak tunggal.  

Firdaus lantas menanyakan kepada Sumarmi apa pekerjaan sang suami.  

"Kalau ada ya kerja macul (mencangkul, red). Kalau gak ada ya istirahat pak," jawab Sumarmi.  

Sementara Sumarmi hanya sebagai ibu tangga lantaran harus menemani Siti.  

Firdaus pun mencoba mendatangi rumah Siti. Saat tiba di rumah Siti, kondisinya pun tampak sederhana. Di rumah, Firdaus pun bertemu dengan ayah Siti, Ngatiman.  

Diketahui, saat berangkat menuju sekolah Siti diantar sang ibu dengan menggunakan kursi roda.  

"Ya pakai itu pak, kursi roda saya yang antar," ujar Sumarmi.  

Namun diketahui dengan kondisi Covid-19 ini sekolah di beberapa daerah ditutup. Hal itu menjadi salah satu hal sulit bagi Siti. Lantaran sekolah diadakan secara online, sementara Siti tidak memiliki handphone. Sehingga ia harus menumpang teman-temannya saat melakukan sekolah online.

Ngatiman lantas menceritakan, jika rumah yang ia tinggali merupakan bantuan dari warga. Rumah tersebut dibangun oleh aparat desa dan warga sekitar agar layak untuk ditinggali.  

Baca Juga : Persentase Kesembuhan 83 Persen di Kota Batu, Ada Tambahan 19 Pasien Sembuh

 

"Awalnya gedek (dari bambu) lalu gak tega lihat anak saya, lalu dibuatkan," cerita Ngatiman.

Untuk nafkah, Ngatiman mengatakan, jika ia sehari mendapatkan uang Rp 40 ribu dari hasil mencangkul di kebun tebu. Lebih lanjut Firdaus memohon izin untuk melihat kondisi rumah mereka. Saat dilihat, tampak kondisi rumah yang tampak tidak rapi. Kondisi dapurnya pun seadanya yang terbuat dari anyaman bambu.  

Saat ditelusuri, Sumarmi ternyata masih menggunakan arang untuk memasak. Sementara kondisi kamar mandinya juga kurang layak lantaran tidak ada atap dan hanya tertutup dengan kain.  

Hingga akhirnya Firdaus memberikan bantuan kepada Siti. Firdaus berharap agar bantuan tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik.  

Program Ngedum Ojir ini  merupakan bentuk kepercayaan dari pembaca JatimTIMES Network untuk disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Para pembaca JatimTIMES Network pun bisa menyampaikan kepeduliannya dan turut berbagi dengan mendatangi atau menghubungi kantor JatimTIMES.

Dengan program ini, diharapkan masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat merasakan sedikit kebahagiaan. Serta memberikan inspirasi mengenai nilai-nilai kehidupan kepada pembaca setia JatimTIMES Network di mana pun berada.

Episode JatimTIMES Ngedum Ojir akan terus berlanjut untuk “Berbagi Kebahagiaan dan Mengukir Senyuman”.