Prof Dr Unti Ludigdo SE MSi Ak selaku Ketua Tim Monefvas Kampung Tangguh saat konferensi pers. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Prof Dr Unti Ludigdo SE MSi Ak selaku Ketua Tim Monefvas Kampung Tangguh saat konferensi pers. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Kondisi pandemi Covid-19 di Malang Raya kembali mengkhawatirkan. Jumlah masyarakat yang terpapar Covid-19 kian bertambah. Bahkan, sejumlah rumah sakit tak bisa lagi menampung pasien Covid-19 lantaran telah over capacity.

Covid-19 menyerang masyarakat tanpa kecuali. Termasuk para civitas academica kampus. Berdasarkan data dari Tim Monitoring Evaluasi Fasilitasi Implementasi (Monefvas) Kampung Tangguh UB, sejumlah 75 civitas academica UB positif Covid-19.

Baca Juga : Vaksinasi: Keluarga Sehat, Produktivitas Meningkat

 

"Berdasarkan data yang masuk di tim kami, sampai data terakhir itu ada 75 keluarga UB yang terkonfirmasi positif sampai hari ini. Itu yang sudah masuk di database kami," ujar Prof Dr Unti Ludigdo SE MSi Ak selaku Ketua Tim Monefvas Kampung Tangguh UB saat konferensi pers daring, Kamis (3/12/2020).

Nah, kasus Covid-19 yang menyeruak kembali ini, kata Unti, oleh kalangan epidemiolog disebut salah satunya karena adanya libur panjang.

Dijelaskan Unti, sesungguhnya Tim Satgas UB dari jauh hari juga sudah memprediksi kemungkinan kondisi seperti ini akan terjadi di Indonesia. Pada saat itu, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan para kepala daerah di Malang Raya untuk dapat mengantisipasinya. Namun, setelah sempat sekian waktu penderita Covid-19 mengalami penurunan, masyarakat termasuk pengambil kebijakan menjadi lengah.

"Tampaknya setelah sekian waktu mengalami penurunan, kita-kita semua, termasuk pengambil kebijakan di level yang di atas kita agak lengah," terangnya.

Civitas UB sebagai bagian dari masyarakat pun tidak bisa menghindari apa yang akan terjadi. Terlebih, ada aktivitas civitas di luar yang tidak bisa dibatasi oleh kampus.

"Dari penularan yang ada di luar itu sebagian terbawa di kampus dan kemudian itu menular kepada teman yang lain di dalam kampus. Jadi peningkatan kasus di Universitas Brawijaya atau yang menimpa civitas academica Universitas Brawijaya itu sebagian besar mayoritas itu terjadi di luar kampus," paparnya.

Pihak UB pun relatif terbuka dalam menyampaikan informasi ini. Bahkan, UB juga mengeluarkan Instruksi Rektor Nomor 9644 Tahun 2020 tanggal 24 November 2020 tentang Penegakan Protokol Kesehatan dan Pencegahan Penularan Covid-19 di Lingkungan Universitas Brawijaya.

Baca Juga : Dirawat Di RSSA, Sekda Kota Malang Wasto Turut Terpapar Covid-19

 

Isi dari Instruksi Rektor tersebut, pertama, menegakkan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19 dalam lingkup kerjanya masing-masing. Kedua, mengaktifkan kembali satuan tugas penanganan dan pencegahan Covid-19 atau satuan tugas kampus tangguh di masing-masing unit kerja.

Ketiga, mengurangi risiko terjadinya penularan Covid-19 kepada sivitas akademika dengan melarang pelaksanaan kegiatan yang akan dikuti orang lebih dari 50 persen dari kapasitas ruang di dalam kampus dan melarang pelaksanaan kegiatan di hotel atau tempat umum lainnya di luar kampus. Keempat, lebih selektif dalam menyetujui kegiatan yang menghadirkan tamu dari luar UB dan memastikan berlakunya protokol kesehatan dengan semestinya apabila kegiatan itu harus dilakukan dan melaporkan kepada tim pencegahan dan penanggulangan Covid-19 UB.

Kelima, lebih selektif dalam memberikan tugas kepada dosen yang menjadi narasumber atau tugas lainnya pada forum yang diminta instansi atau pihak ketiga lainnya.

Terakhir, menyampaikan keadaan diri dan/atau keluarganya apabila terkonfirmasi positif kepada tim pencegahan dan penanggulangan Covid-19 UB dan/atau satuan tugas penanganan dan pencegahan Covid-19 masing-masing unit kerja guna penanganan dan pencegahan penularan lebih lanjut pada sivitas academica lainnya.