Permintaan Menag agar Doa Semua Agama Disampaikan di Setiap Kegiatan Langsung Jadi Sorotan | Sumenep TIMES

Permintaan Menag agar Doa Semua Agama Disampaikan di Setiap Kegiatan Langsung Jadi Sorotan

Apr 06, 2021 09:26
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Foto: Tribunnews)
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Foto: Tribunnews)

INDONESIATIMES- Pernyataan cukup mengejutkan disampaikan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas. Yaqut mengatakan ingin membuat gebrakan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag).  

Yaqut ingin setiap kegiatan di Kemenag tak hanya diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran. Ia ingin agar semua agama yang diakui di tanah air mendapat kesempatan yang sama untuk memanjatkan doa.  

Baca Juga : Pilrek UIN Malang, Mantan Rektor Prof Imam Ungkit Kasus Plagiasi

Keinginan pria yang akrab disapa Gus Yaqut itumenunjukkan bahwa Kemenag melayani semua agama. Hal ini disampaikan Gus Yaqut saat memberi sambutan dalam rapat kerja nasional (rakernas) Kemenag 2021. Ia mengatakan rakernas mengurusi semua agama, bukan hanya agama tertentu.

"Pagi hari ini saya senang rakernas dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran. Ini memberikan pencerahan sekaligus penyegaran untuk kita semua. Tapi akan lebih indah jika doanya semua agama diberikan kesempatan untuk memulai doa," kata Yaqut saat memberikan sambutan rakernas Kemenag 2021, Senin (5/4/2021).

"Jadi, jangan ini kesannya kita sedang rapat ormas Kementerian Agama, ormas Islam Kementerian Agama. Tidak. Kita ini sedang melaksanakan rakernas Kementerian Agama yang di dalamnya bukan hanya urusan agama Islam saja," imbuhnya.

Lebih lanjut, Gus Yaqut mengatakan apa yang diutarakannya ini sebagai autokritik. Menag lantas melemparkan seloroh bahwa jika semua agama yang diakui di Indonesia memanjatkan doa, maka kemungkinan terkabulnya semakin tinggi.

"Jadi mungkin lain waktu bisalah. Kan lebih enak dilihat itu kalau semua agama yang menjadi urusan di kementerian ini sama-sama menyampaikan doanya. Kalau semakin banyak yang berdoa, semakin mudah atau semakin probabilitas untuk dikabulkan itu semakin tinggi," paparnya. 

Pernyataan Gus Yaqit itu rupanya langsung menjadi sorotan beberapa pihak. Misalnya, Waketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengkritik keras ide Yaqut tersebut.  

"Jadi bingung sendiri yang dilakukan menteri agama ini. Kalau di daerah yang mayoritas Islam seperti Aceh, itu cukup dengan (doa) ajaran Islam. Tetapi kalau di Bali, ya (doa) Hindu, kalau di NTT ya (doa) agama Katolik, kalau di Sulawesi Utara (doa) Protestan ya," ujar Anwar.  

Ia mengatakan Yaqut seharusnya melihat pembicara dan mayoritas peserta yang hadir di suatu acara Kemenag. Jika pembicara atau peserta yang hadir lebih banyak satu agama tertentu, maka doanya bisa disesuaikan.

Baca Juga : Istana Batik KaDe Berbagi Kebahagiaan dengan Menyantuni Anak Yatim

Anwar lantas mempertanyakan apa pentingnya membacakan doa agama tertentu tapi tidak ada penganutnya yang hadir dalam acara Kemenag. Selain itu, Anwar mempertanyakan pemahaman Yaqut soal toleransi.

"Menteri agama ini kurang ngerti tentang toleransi. Toleransi itu baru punya arti dan makna (jika berada) di tengah-tengah perbedaan dan kita menghargai perbedaan itu," ucap Anwar.

Di sisi lain, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengapresiasi ide Yaqut itu. "Saya mengapresiasi pernyataan Pak Menteri. Ini menunjukkan kepedulian beliau yang sejatinya memang melayani semua agama," ujar Ketum PGI, Gomar Gultom. 

Kendati demikian, Gomar meminta praktik pembacaan doa dari semua agama itu untuk dipikirkan baik-baik. Ia menilai sudah ada protokol baku yang selama ini dipraktikkan oleh banyak pihak.

Sementara Humas PGI Philip Situmorang juga mendukung ide Yaqut. Philip mengatakan pembacaan doa semua agama di acara-acara Kemenag akan menunjukkan perlakuan yang sama bagi tiap warga. "Untuk acara-acara Kemenag, kami mendukung adanya hal tersebut sehingga kita semua warga negara sama diperlakukan," ujar Philip.

Topik
Kementerian Agama Menteri Agama Menag Yaqut Cholil Qoumas MUI anwar abbas PGI

Berita Lainnya