Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Prediksi Lebaran 2026 Menurut BRIN, BMKG, Muhammadiyah, Pemerintah dan NU, Berpotensi Berbeda Tanggal

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

16 - Mar - 2026, 15:26

Placeholder
Ilustrasi idulfitri. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Umat Islam di Indonesia kini mulai menantikan kepastian kapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 akan dirayakan. Setelah menjalani ibadah puasa selama hampir satu bulan di bulan Ramadan, penetapan 1 Syawal menjadi momen penting karena menandai berakhirnya puasa sekaligus datangnya hari kemenangan.

Di Indonesia, penentuan awal bulan hijriah termasuk Syawal dilakukan melalui sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama. Penetapan tersebut menggunakan dua metode utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal). Data posisi bulan hasil perhitungan astronomi akan dipadukan dengan laporan pengamatan hilal dari berbagai wilayah sebelum pemerintah mengumumkan keputusan resmi.

Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku

Meski demikian, sejumlah lembaga dan organisasi Islam telah lebih dulu menyampaikan prediksi mengenai kemungkinan tanggal Idulfitri 2026 berdasarkan metode yang mereka gunakan. Perbedaan metode ini membuat potensi perbedaan tanggal Lebaran di Indonesia masih mungkin terjadi.

Berikut prediksi Lebaran 2026 menurut beberapa lembaga dan organisasi.

Prediksi Idulfitri 2026 Versi BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 21 Maret 2026.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa secara astronomi pada saat Maghrib tanggal 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal diperkirakan belum memenuhi kriteria yang digunakan negara anggota Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Kriteria MABIMS menetapkan bahwa hilal dapat dianggap terlihat apabila memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

“Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, maka 1 Syawal 1447 = 21 Maret 2026,” tulis Thomas Djamaluddin dalam blog pribadinya pada Juni 2025.

Namun ia juga menyebutkan bahwa jika menggunakan kriteria lain seperti yang digunakan di Turki, maka hasilnya berbeda. Berdasarkan kriteria tersebut, Idulfitri berpotensi jatuh pada 20 Maret 2026.

Prediksi Lebaran 2026 Versi BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data posisi hilal untuk penentuan awal Syawal.

Berdasarkan perhitungan BMKG, pada 19 Maret 2026 saat Matahari terbenam, ketinggian hilal di Indonesia diperkirakan berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang.

Sementara itu, nilai elongasi geosentris diperkirakan berada pada rentang 4,54 derajat di Waris, Papua hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.

BMKG menjelaskan bahwa angka tersebut menunjukkan hilal kemungkinan belum memenuhi kriteria MABIMS secara menyeluruh. Selain itu, pengamatan hilal juga berpotensi terganggu oleh objek astronomi lain seperti planet atau bintang terang yang posisinya berdekatan dengan bulan sehingga dapat menimbulkan kesalahan pengamatan.

Jika hilal benar-benar tidak terlihat pada 19 Maret, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga Idulfitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.

Penetapan Idulfitri 2026 Versi Muhammadiyah

Berbeda dengan lembaga lainnya, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

Penetapan tersebut menggunakan metode hisab hakiki yang berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Karena menggunakan sistem perhitungan astronomi tanpa menunggu rukyat, Muhammadiyah biasanya dapat menetapkan tanggal hari besar Islam lebih awal.

Dengan demikian, Lebaran 2026 menurut Muhammadiyah berpotensi lebih dulu dibandingkan prediksi lembaga lain.

Prediksi Idulfitri 2026 Versi Pemerintah dan NU

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan.

Sidang tersebut akan dilaksanakan di Jakarta mulai pukul 16.00 WIB dan melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan organisasi Islam, pakar astronomi, serta lembaga terkait.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, mengatakan keputusan sidang isbat akan didasarkan pada data hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah.

“Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang pelaksanaannya melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” ujarnya.

Sambil menunggu hasil sidang isbat, perkiraan tanggal Idulfitri juga dapat dilihat dalam Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama. Dalam kalender tersebut, 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Informasi serupa juga tercantum dalam Almanak 2026 yang dirilis Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Bojonegoro.

Berdasarkan berbagai prediksi tersebut, terdapat kemungkinan Idulfitri 2026 di Indonesia jatuh pada dua tanggal berbeda, yakni 20 Maret 2026 menurut Muhammadiyah dan 21 Maret 2026 menurut prediksi BRIN, BMKG, serta kalender Kementerian Agama.

Meski demikian, kepastian resmi mengenai kapan Lebaran akan diumumkan pemerintah setelah sidang isbat pada 19 Maret 2026.


Topik

Peristiwa Lebaran 2026 Prediksi Lebaran Idulfitri BRIN NU Muhammadiyah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sumenep Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa