Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Meneliti Batuan Tertua Pulau Jawa, Mahasiswa Unikama Jalani Misi Riset di Karangsambung

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

09 - Jun - 2026, 16:05

Placeholder
Mahasiswa Pendidikan Geografi Unikama mengikuti pemaparan di fasilitas BRIN Kawasan Geodiversitas Kebumen saat Kuliah Kerja Lapangan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis riset untuk memperkuat kemampuan penelitian dan penulisan ilmiah mahasiswa (ist)

JATIMTIMES - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) tidak hanya diajak mengenal kekayaan geologi Indonesia saat mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Kawasan Geodiversitas Indonesia Kebumen milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin (8/6/2026). Kegiatan tersebut juga dirancang sebagai sarana membangun budaya riset sejak dini dengan target luaran berupa karya ilmiah dan buku akademik.

Sebanyak 60 mahasiswa yang mengikuti kegiatan dibagi ke dalam dua kelompok penelitian dengan fokus berbeda. Mereka melakukan observasi, pengukuran lapangan, hingga pemetaan hubungan antara bentang alam dan kehidupan masyarakat di kawasan Geopark Kebumen.

Baca Juga : Krisis Air Bersih Mengintai Madura, Harisandi DPRD Jatim Desak Mitigasi Sejak Dini

Dipilihnya Karangsambung menjadi tujuan KKL bukan tanpa alasan. Karangsambung dikenal sebagai salah satu kawasan geologi paling penting di Indonesia. Wilayah yang kerap dijuluki "The Glowing Mother Earth of Java" itu memiliki sedikitnya 42 geosite yang menjadi laboratorium alam bagi para peneliti.

1

Keunikan kawasan tersebut terletak pada keberadaan batuan metamorf langka seperti eklogit yang terbentuk akibat proses tekanan dan temperatur sangat tinggi di dalam bumi. Tim BRIN menjelaskan, batuan tersebut berasal dari kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan bumi.

"Batuan ini berasal dari kedalaman 45 kilometer hingga 300 kilometer di bawah permukaan bumi. Terbentuk dari batuan beku basa yang mengalami panas dan tekanan luar biasa. Banyak yang menyebutnya sebagai pondasinya Pulau Jawa, karena ini termasuk batuan tertua di pulau ini," jelas tim BRIN kepada mahasiswa di lokasi.

Selain eklogit, kawasan Karangsambung juga menyimpan berbagai jenis batuan lain yang memiliki nilai ilmiah tinggi, mulai dari lava bantal atau pillow lava, batuan sedimen, hingga batuan metamorf yang menjadi bukti perjalanan geologi Pulau Jawa selama jutaan tahun. Kekayaan tersebut menjadikan Kebumen sebagai salah satu pusat geodiversitas nasional.

Ketua Program Studi Pendidikan Geografi Unikama, Dr. Suwito, M.Pd., mengatakan kegiatan lapangan itu sengaja dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam proses penelitian, bukan sekadar melakukan kunjungan akademik.

"Mahasiswa harus mendapatkan pengalaman nyata sekaligus berlatih menyusun karya ilmiah," ujar Suwito.

Ia menjelaskan, kelompok pertama difokuskan untuk mengkaji interaksi antara bentang alam dan bentang budaya di kawasan Geopark Kebumen. Hasil penelitian mereka ditargetkan menjadi sebuah buku monograf. Sementara kelompok kedua melakukan penelitian yang lebih mendalam melalui pengukuran langsung di lapangan dengan target menghasilkan artikel ilmiah yang siap dipublikasikan.

Baca Juga : 6 Jurusan Kuliah yang Banyak Dipilih Miliarder Dunia, Ada yang Bisa Jadi Inspirasi Calon Mahasiswa

Selama dua hari pelaksanaan KKL, mahasiswa menjalani rangkaian kegiatan di sejumlah lokasi geologi penting. Hari pertama diisi dengan eksplorasi kawasan geodiversitas BRIN di Karangsambung, sedangkan hari berikutnya dilanjutkan ke Tebing Breksi dan lokasi lava bantal yang menjadi salah satu ikon geologi Kebumen.

Menurut Suwito, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya prodi untuk membiasakan mahasiswa terlibat dalam penelitian sejak masih berada di bangku kuliah. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori yang diperoleh di kelas, tetapi juga mampu menerapkan metode penelitian secara langsung.

"Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga terbiasa dengan desain riset, pengumpulan data lapangan, dan penulisan ilmiah. Karangsambung adalah laboratorium sempurna untuk itu," katanya.

Melalui pengalaman di kawasan yang dikenal sebagai "Pondasi Pulau Jawa" tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh bekal akademik yang lebih kuat sekaligus memahami bagaimana penelitian lapangan menjadi bagian penting dalam pengembangan ilmu geografi dan pendidikan geografi di masa depan.


Topik

Pendidikan unikama.prodi pendidikan geografi unikama geologi karangsambung



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sumenep Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan