JATIMTIMES – Lonjakan kasus HIV/AIDS di Jawa Timur (Jatim) yang mencatatkan angka tertinggi secara nasional mendapat perhatian serius dari Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim, Lilik Hendarwati. Lilik menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa lagi dipandang semata sebagai persoalan medis, melainkan menyangkut aspek sosial, pendidikan, hingga ketahanan keluarga.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Jatim tahun 2025, jumlah Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Jatim telah mencapai 65.238 orang, dengan penambahan 2.599 kasus baru hanya dalam rentang waktu Januari hingga Maret.
Baca Juga : Imbas PSU Mangkrak: Warga Terjebak, Pemkot Malang Terkunci Aturan, Pengembang jadi Sorotan
“Meningkatnya kasus HIV di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, harus menjadi perhatian serius semua pihak. Ini bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial, pendidikan, dan ketahanan keluarga,” ujar Lilik, Rabu (22/7/2026).
Menyikapi laju temuan kasus yang terus meningkat, Lilik mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota untuk menghapus stigma sosial dan memperluas akses layanan kesehatan secara merata. Menurutnya, rasa takut terhadap diskriminasi kerap menjadi penghambat utama masyarakat dalam melakukan deteksi dini.
“Kami mengingatkan agar penanganan HIV dilakukan dengan pendekatan yang berimbang. Di satu sisi, pencegahan harus diperkuat melalui edukasi, penguatan nilai-nilai keluarga, dan pembinaan generasi muda. Di sisi lain, masyarakat yang hidup dengan HIV harus mendapatkan layanan kesehatan yang layak tanpa diskriminasi, karena stigma justru dapat menghambat deteksi dini dan pengobatan,” tegas legislator PKS dari daerah pemilihan Surabaya tersebut.
Selain penghapusan stigma, Fraksi PKS DPRD Jatim mendorong pemda untuk mengeksekusi tiga langkah strategis penanganan HIV/AIDS secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Pertama, meningkatkan edukasi dan literasi masyarakat mengenai pencegahan HIV, khususnya bagi kelompok remaja dan usia produktif. Kedua, memperluas layanan skrining, konseling, dan pengobatan agar mudah dijangkau. Ketiga, memperkuat kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, tokoh agama, ormas, dan keluarga dalam membendung perilaku berisiko.
Baca Juga : Warga Sambat Soal PSU Mangkrak, Dewan Minta Pemkot Malang Tak Hanya Diam
“Data yang dipublikasikan menunjukkan adanya tren peningkatan temuan kasus sehingga diperlukan langkah yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan, tetapi harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat,” jelas Lilik.
Ia berharap melonjaknya kasus HIV di Jawa Timur menjadi alarm keras sekaligus momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta membangun ketahanan keluarga sebagai benteng utama dalam melindungi generasi masa depan.
