JATIMTIMES - Ramadan 1447 Hijriah tinggal menghitung hari. Di tengah gegap gempita pawai obor, ziarah kubur, hingga persiapan umrah, ada satu hal yang kerap luput dibicarakan, yakni bagaimana seorang ayah menyiapkan akidah dan akhlak anaknya menyongsong bulan suci.
Alquran menghadirkan satu figur yang relevan sepanjang zaman, yakni Luqman al-Hakim. Sosok yang dikenal sebagai hamba saleh dan ahli hikmah itu diabadikan bukan karena kekuasaan atau harta, melainkan karena cara ia mendidik anaknya.
Baca Juga : Bank Libur pada Cuti Bersama Imlek 16 Februari? Simak Jadwal Operasional Lengkapnya
Dalam Surah Luqman ayat 12, Allah menegaskan, “Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah.’” Pesan pertama yang ia tanamkan bukan soal prestasi duniawi, tetapi fondasi syukur. Sebab, syukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara pandang hidup.
Nasihat Luqman kemudian mengerucut pada inti akidah. “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar” (QS Luqman: 13). Ini bukan sekadar larangan teologis, melainkan peringatan tentang arah hidup. Ketika tauhid rapuh, karakter ikut runtuh.
Pakar pendidikan Islam Dr Adian Husaini dalam bukunya Pendidikan Islam menekankan bahwa adab pertama yang wajib ditanamkan ayah kepada anak adalah adab kepada Allah. Ia menyebut, pendidikan iman tidak bisa ditunda atau ditukar dengan capaian akademik semata. “Jika fondasi tauhid kuat, anak punya kompas moral yang jelas,” tulisnya.
Setelah tauhid, Luqman mengajarkan bakti kepada orang tua. Alquran mengingatkan beratnya perjuangan seorang ibu dalam mengandung dan menyapih. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu” (QS Luqman: 14). Namun Alquran juga tegas memberi batas. Jika orang tua memaksa pada kemusyrikan, seorang anak tidak boleh taat dalam hal itu, tetapi tetap harus mempergauli keduanya dengan baik.
Pesan berikutnya menyentuh dimensi ihsan. “Wahai anakku, sungguh jika ada sesuatu seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan membalasnya” (QS Luqman: 16). Ini pelajaran tentang integritas. Tidak ada ruang untuk merasa aman berbuat salah saat tak ada yang melihat.
Baca Juga : Senin Penuh Kejutan! Ramalan Zodiak 16 Februari 2026 Bikin Deg-degan
Luqman juga menyiapkan anaknya menjadi pribadi yang aktif secara sosial. “Wahai anakku, dirikanlah salat, suruhlah berbuat yang makruf dan cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu” (QS Luqman: 17). Salat menjadi jangkar spiritual, sementara amar makruf nahi mungkar membentuk keberanian moral.
Larangan berjalan dengan angkuh dan memalingkan wajah dari manusia menjadi pengingat bahwa kesombongan adalah racun karakter. Hal ini juga dicontohkan Luqman. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS Luqman: 18).
