JATIMTIMES - Nama Juney Hanafi kini jadi perhatian di dunia balap sepeda ultra. Pesepeda asal Kota Malang, Jawa Timur, itu sukses menorehkan sejarah setelah menjadi finisher pertama sekaligus orang Indonesia pertama yang menjuarai ajang internasional Lintang Flores 2026.
Dalam ajang yang digelar pada 3–7 Mei 2026 di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur, itu, Juney mencatatkan waktu 79 jam 5 menit 14 detik. Ia menjadi yang tercepat menaklukkan rute ekstrem sejauh kurang lebih 1.000 kilometer, melintasi pegunungan, pesisir, hingga suhu panas yang disebut bisa menyentuh 48 derajat Celsius.
Baca Juga : Ramalan Keuangan Zodiak 7 Mei 2026: Leo Berpeluang Tambah Penghasilan, Pisces Dapat Rezeki dari Kreativitas
Keberhasilan ini sekaligus mematahkan dominasi pesepeda mancanegara yang selalu mendominasi podium utama di dua edisi sebelumnya.
Untuk diketahui, Lintang Flores merupakan ajang ultra cycling kelas internasional yang digelar di Pulau Flores. Tahun 2026 menjadi edisi ketiga penyelenggaraan event ini, dan popularitasnya terus meningkat, baik di kalangan pesepeda nasional maupun internasional.
Rute yang dilalui sangat berat. Peserta harus menempuh perjalanan sekitar 1.000 kilometer yang membentang dari Labuan Bajo menuju Ruteng, Bajawa, Ende, hingga Maumere, lalu kembali lagi ke titik awal.
Total elevasi yang harus ditaklukkan mencapai sekitar 19.000 meter, dengan batas waktu (cut-off time/COT) selama 100 jam. Start dan finis dipusatkan di Ta'aktana, Luxury Collection Resort & Spa, Labuan Bajo, sementara Hotel Sylvia di Maumere menjadi satu-satunya checkpoint resmi.
Menariknya, di edisi 2026 ini, untuk pertama kalinya pesepeda asal Indonesia berhasil menjadi juara.
Lintang Flores dikenal tak hanya sebagai lomba sepeda jarak jauh biasa. Ajang ini mengusung konsep self-supported ultra cycling, yang artinya seluruh peserta harus mandiri selama perlombaan.
Peserta wajib membawa sendiri seluruh kebutuhan, mulai dari makanan, minuman, perlengkapan tidur, hingga suku cadang sepeda sejak awal. Tidak ada tim pendukung, tidak ada mobil logistik, dan tidak ada bantuan khusus di sepanjang rute.
Peserta hanya diperbolehkan menggunakan layanan umum seperti warung, toko, atau penginapan yang tersedia untuk semua orang. Waktu juga terus berjalan sejak start hingga finis, termasuk saat berhenti untuk istirahat atau tidur.
Semua aturan dijalankan berdasarkan kejujuran atau honor system, tanpa pengawasan langsung dari wasit di lapangan.
Di sinilah tantangan sesungguhnya. Peserta tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga harus pintar mengatur strategi, mulai dari logistik, waktu istirahat, hingga ketahanan mental selama perjalanan panjang.
Berdasarkan data live tracking dari platform Racemap, Juney Hanafi finis pada Selasa, 6 Mei 2026 pukul 12.05.14 WITA.
Total waktu tempuhnya tercatat 79 jam 5 menit 14 detik untuk menaklukkan rute sekitar 1.000 kilometer. Kecepatan rata-rata saat mengayuh aktif diperkirakan berada di kisaran 14,5 hingga 15,6 km per jam.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Kamis Wage 7 Mei 2026: Hari Baik untuk Jual Beli
Ia juga masih memiliki sisa waktu sekitar 20 jam 55 menit sebelum batas cut-off time berakhir.
Selama perlombaan, Juney diperkirakan hanya beristirahat dan tidur sekitar 10–15 jam, yang memang menjadi pola umum dalam ajang ultra cycling multi-hari.
Tantangan yang dihadapi pun tidak ringan. Selain tanjakan panjang di wilayah pegunungan Flores, peserta juga harus melintasi jalur pesisir utara yang dikenal kasar dan tidak rata.
Bahkan, pemenang edisi sebelumnya sempat memberikan peringatan soal medan berbahaya di jalur tersebut. Tak hanya itu, peserta juga harus tetap mengayuh di malam hari dalam kondisi gelap.
Jika melihat catatan waktu, hasil tahun ini memang berbeda dibanding edisi sebelumnya. Namun, perbandingan tidak bisa dilakukan secara langsung karena kondisi cuaca, jumlah peserta, hingga variasi rute bisa berubah setiap tahun.
Pada edisi 2024, Boru Mccullagh dari Inggris menjadi juara dengan waktu 70 jam. Sementara pada 2025, Dr. Stephen Lane dari Australia mencatatkan waktu 55 jam 21 menit.
Di tahun yang sama, pesepeda Indonesia Zidan Attala Nouval dari Sidoarjo berhasil meraih posisi kedua dengan catatan waktu 62 jam 7 menit.
Baru di tahun 2026, Indonesia akhirnya berhasil naik ke podium tertinggi melalui Juney Hanafi.
Kemenangan Juney Hanafi ini menjadi momen istimewa bagi dunia ultra cycling Indonesia. Pasalnya selama dua edisi sebelumnya, podium utama selalu didominasi oleh atlet luar negeri. Kini, pesepeda asal Indonesia berhasil mematahkan dominasi tersebut.
Juney juga menjadi bukti bahwa pesepeda Tanah Air mampu bersaing di level internasional, bahkan di ajang dengan tingkat kesulitan tinggi seperti Lintang Flores.
Juney, berhasil membawa nama Kota Malang yang dikenal dengan lanskap berbukit dan komunitas sepeda yang aktif ke panggung dunia.
