Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Iduladha dan Perang Melawan Egoisme, Refleksi Pesan Nabi Ibrahim

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

26 - May - 2026, 12:51

Placeholder
Guru Besar Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Zainuddin, MA (ist)

JATIMTIMES - Menjelang Hari Raya Iduladha, pesan tentang pengorbanan kembali digaungkan umat Islam melalui takbir, tahmid, dan pelaksanaan ibadah kurban. Namun, di balik ritual penyembelihan hewan kurban, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam tentang kemanusiaan, solidaritas sosial, hingga perang melawan egoisme manusia. 

Hal itu disampaikan Guru Besar Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof. Dr. M. Zainuddin, dalam refleksinya mengenai makna kurban dan keteladanan Nabi Ibrahim.

Baca Juga : Geger Penampakan Mirip UFO Jatuh di Madura, Ternyata Ini Faktanya

Menurut Zainuddin, Iduladha bukan hanya momentum seremonial keagamaan, melainkan peneguhan kembali ajaran tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim. Takbir dan tahmid yang dikumandangkan umat Islam, katanya, merupakan pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang layak diagungkan dan disembah.

Ia menilai, ajaran tauhid yang diwariskan Nabi Ibrahim sesungguhnya mengandung penolakan terhadap berbagai “tuhan-tuhan kecil” dalam kehidupan modern. “Tauhid adalah penegasian terhadap seluruh tuhan-tuhan duniawi, baik materi, kekuasaan, jabatan, maupun kedudukan,” ujarnya.

Dalam pandangannya, manusia boleh kehilangan kekuasaan, jabatan, bahkan harta benda, tetapi tidak boleh kehilangan iman dan keyakinannya kepada Tuhan. Karena itu, ia mengingatkan agar kekuasaan tidak membuat seseorang mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan maupun menggadaikan prinsip demi kepentingan pribadi.

Zainuddin menjelaskan, substansi ibadah kurban tidak berhenti pada pembagian daging kepada masyarakat miskin. Lebih dari itu, kurban merupakan simbol lahirnya ketakwaan sekaligus solidaritas sosial. Ia merujuk pada Surah Al-Hajj ayat 27-28 yang menegaskan pentingnya memberi makan kepada kaum fakir dan orang-orang yang menderita.

Menurutnya, nilai kemanusiaan dalam kurban justru hilang ketika praktik pengorbanan hanya menjadi simbol keagamaan, sementara pada saat yang sama masih banyak pihak yang “dikorbankan” demi ambisi politik, ekonomi, maupun pembangunan. Ia menyinggung fenomena sosial yang kerap menjadikan rakyat kecil sebagai korban kebijakan.

“Yang diperintahkan Tuhan adalah melahirkan nilai takwa, bukan membuat orang lain menjadi korban,” katanya.

Ia juga mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa bukan darah dan daging hewan kurban yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan manusia.

Selain menyoroti makna spiritual, Zainuddin menekankan bahwa Islam menolak sikap individualistis. Umat Islam, katanya, dituntut peka terhadap persoalan masyarakat dan memiliki tanggung jawab sosial. Ia mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang menyebut bahwa seseorang yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin bukan bagian dari golongan mereka.

Pesan tersebut, lanjutnya, juga berlaku bagi para pemimpin. Dalam perspektif Islam, seorang pemimpin tidak dibenarkan hidup egois atau menjauh dari persoalan rakyat. Kepemimpinan, menurutnya, harus diwujudkan melalui tanggung jawab nyata dalam membangun kesejahteraan lahir dan batin masyarakat, bukan sekadar slogan politik.

Baca Juga : Tak Wajib Punya Ijazah TK, Disdikbud Kota Malang Tegaskan Anak Usia 6 Tahun Bisa Masuk SD

Zainuddin memandang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai simbol perjuangan melawan egoisme. Ia menilai kesediaan Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan putranya merupakan bentuk kepasrahan total kepada Tuhan sekaligus kemenangan atas kepentingan pribadi.

“Peristiwa kurban adalah perang melawan ego,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Nabi Ibrahim sempat menghadapi godaan dan bujukan untuk membatalkan perintah tersebut. Namun, kekuatan iman membuatnya mampu mengalahkan kepentingan pribadi demi tujuan yang lebih mulia.

Menurut Zainuddin, spirit deegoisasi atau pelepasan ego itulah yang seharusnya dimiliki para pemimpin saat ini. Dari sikap tersebut akan lahir kepedulian sosial, toleransi, dan keberpihakan terhadap masyarakat.

“Jika para pemimpin mampu mengambil hikmah dari peristiwa kurban, berbagai krisis sosial dan kemanusiaan sebenarnya dapat dihindari,” tuturnya.

Ia menegaskan, Iduladha seharusnya menjadi momentum refleksi bersama bahwa ibadah kurban bukan hanya ritual tahunan, melainkan panggilan moral untuk menyingkirkan keserakahan, memperkuat solidaritas sosial, dan menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan pribadi maupun kekuasaan.


Topik

Pendidikan Idul Adha hewan kurban Idul Kurban makna kurban nabi Ibrahim Guru Besar Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim UIN Maliki Ma



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sumenep Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni